Sabtu, Oktober 03, 2015

Masa Depan Air Bersih Kota Semarang Bukan Hanya Slogan

Menata Hati untuk Peduli Air Bersih 


“Jangan wariskan air mata kepada anak cucu kita, tetapi wariskanlah mata air bagi mereka semua”

KRISIS AIR”
Berbuatlah untuk air
Bocah – bocah kecil tak lagi bahagia tak lagi damai
Di sana sini mencari air
Tiap tetesmu sangat berarti
Sungaiku tak jernih seperti dulu
Tenang dan mengalir
Krisis air semakin hari makin terasa

 “POHON”
Lereng pegunungan penuh bongkahan beton
Peranmu menancap kokoh di perut bumi tlah tergantikan

Itulah sedikit petikan puisi menggambarkan keadaan apabila kita tidak menjaga dan melestarikan air.


Kesadaran akan pentingnya air dan urgensi untuk mejaga kelestariannya sudah merupakan kewajiban bersama. Krisis air saat ini bukan hanya cerita saja dan tanpa disadari telah terjadi di sekitar kita. Salah satunya terjadinya pergeseran waktu untuk setiap musim yang ada. Sebenarnya alam (bumi) telah memiliki mekanisme dalam pengaturan sistem air yang ada akan tetapi karena adanya perubahan iklim yang ekstrim dan kerusakan lingkungan yang ada mengakibatkan menipisnya persediaan air bersih

DATA KRISIS AIR
"6 Dusun di Desa Jatirunggo mengalami krisis air 29/06/2015", Kata Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Semarang.

Berdasarkan data BPBD wilayah Jateng terdapat 17 daerah yang mengalami kekeringan yaitu :
Rembang (26 desa), Blora (126 desa), Grobogan (52 desa), Pati (26 desa), Wonogiri (48 desa), Sukoharjo (satu desa), Klaten (satu desa), Boyolali (satu desa). Banyumas (sembilan desa), Cilacap (22 desa), Purbalingga (39 desa), Tegal (sembilan desa), Pemalang (1 desa), Purworejo (45 desa), Jepara (24 desa), Demak (dua desa), dan Kebumen (58 desa).
"Daerah yang paling parah mengalami bencana kekeringan di antaranya, Grobogan, Pati, Kebumen, Wonogiri, dan Blora", kata Kepala BPBD Jawa Tengah (Jateng) Sarwa Pramana

Berdasarkan data dari IUWASH, “Jumlah kehilangan air di Kota Semarang cukup tinggi yaitu sebesar  57,07 %”

TANTANGAN MENUJU KOTA SEMARANG TANGGUH
Sebagai kota dengan pertumbuhan yang tinggi dan sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah, dengan jumlah penduduk  1 572 105.00 jiwa (BPS tahun 2013). Secara tidak langsung menjadi panutan dan parameter bagi kemajuan kota lain di Jawa Tengah maupun di seluruh Indonesia.
Dengan adanya fenomena pertumbuhan dan aktivitas ekonomi yang tinggi, berbagai masalah dan tantangan menghampiri Kota Semarang. Hal – hal tersebut harus dihadapi dengan serius oleh semua komponen masyarakat Semarang. Seluruh komponen yang ada harus bersinergi untuk membangun Kota Semarang agar dapat beradaptasi dan tumbuh di atas permasalahan dan tantangan yang ada. Salah satunya masalah krisis air bersih di Kota Semarang. Penyediaan air bersih kepada masyarakat memiliki peran penting dalam meningkatkan kesehatan dan standar atau kualitas hidup masyarakat. 

Masalah mengenai krisis air bersih adalah sebagai berikut :
  • Kontaminasinya air oleh mikroorganisme (bakteri atau virus), polutan mikro (penyebab kanker). Kemunculan ini disebabkan oleh pengunaan teknologi yang kurang bersahabat dengan lingkungan.
  • Penyebaran air payau (air tanah bercampur dengan air laut) semakin meluas dan kadar garam semakin tinggi. Kemunculan ini disebabkan oleh pemanfaatan air tanah di kawasan pantai yang dieksplorasi secara berlebihan.
  • Kurangnya kesadaran masyarakat tentang lingkungan. Menganggap hal kecil yang dilakukannya tidak cukup berdampak besar bagi lingkungan
  • Alokasi anggaran yang rendah untuk meningkatkan pelayanan air bersih dan sanitasi (juga anggaran untuk membangun pengetahuan masyarakat mengenai lingkungan)
  • Dari kawasan industri, limbah yang dihasilkan tidak diperhatikan oleh pengelola industri sehingga sumber air di sekitarnya menjadi buruk
  • Kebijakan dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat imbasnya lebih banyak menurunkan kualitas lingkungan terutama sumber air yang ada
  • Pembuangan senyawa organik langsung ke sungai berupa sampah organik dapur rumah tangga, air cucian, dll sebagai salah satu penyumbang terbesar pencemaran sungai  yang dapat memperburuk kualitas air tanah di sekitarnya 
  • Bergantinya daerah resapan air menjadi pemukiman, berubahnya fungsi hutan menjadi perkebunan yang dapat mempercepat laju krisis air
  • Laju pertumbuhan penduduk di Kota Semarang yang cukup tinggi sehingga kebutuhan air bersih juga terus meningkat tiap tahunnya
Eksploitasi air yang ada semarang (Info untuk perbaikan kedepan lebih baik)
Menurut berita tertanggal Juli 2015 mengenai eksploitasi air Pegunungan Muria disebutkan belum adanya payung hukum yang jelas dan kuat untuk menghentikan eksploitasi yang terus menerus dijual oleh sejumlah pihak. Kepala desa setempat tidak dapat menindak tegas eksploitasi yang dilakukan karena aturan perizinan air bawah tanah dan izinnya yang mengeluarkan adalah pemerintah provinsi. Akibatnya Perdes (Kepala Desa) tidak dapat dibuat karena aturan dari provinsi belum turun.

Update berita tertanggal Agustus 2015, 
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memerintahkan eksploitasi sumber mata air di Pegunungan Muria dihentikan.

Seharusnya pergerakan pemerintah lebih cepat sebelum adanya unjuk rasa dan komplain dari masyarakat sekitar karena praktek eksploitasi air telah ada bertahun –tahun. Diharapkanuntuk masalah selanjutnya tindakan pemerintah lebih cepat dalam membuat kebijakan (regulasi)dan tegas dalam mengimplementasikannya

KETAHANAN KOTA SEMARANG MENUJU SEMARANG TANGGUH

Purnomo Dwi Sasongko, Sekretaris Bappeda Kota Semarang dalam lokakarya “Menuju Semarang sebagai Kota Tangguh mengatakan setidaknya sekitar 600 ribu warga belum memiliki akses langsung terhadap jaringan air bersih. Saat ini PDAM baru bisa melayani 64 persen kebutuhan warga Semarang."
Air memang telah memiliki daur air yang sistematis, akan tetapi persedian air bersih akan berkurang apabila terjadi pencemaran di mana –mana. Selain itu, peningkatan permintaan air bersih tidak diimbangi dengan pengelolaan dan pemeliharaan sumber air bersih yang baik. Hal ini menyebabkan sumber air di Kota Semarang menjadi buruk. Selain itu, regulasi dalam pemanfaatan sumber air bersih juga belum maksimal sehingga terjadi eksploitasi sumber air. Sehingga timbul masalah – masalah baru yang memperburuk kualitas sumber air di Kota Semarang. Permasalahan krisis air ini sebenarnya jangan hanya diberikan solusi secara terbatas seperti penyediaan bantuan air bersih atau bantuan sumur bor, maka hal ini tidak akan menyentuh akar permasalahannya.
  • Langkah awal yang sangat penting dilakukan yaitu lakukan pemetaan jumlah, posisi/lokasi, potensi dan kondisi sumber mata air secara aktual.Yang selanjutnya dari informasi tersebut dapat dilakukan strategi , pengembangan, peningkatan, dan pemantapan untuk memenuhi kebutuhan air.  Pemantauan ini (pemetaan) dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi seperti menggunakan satelit dan juga drone (pesawat tanpa awak)
  • Mengkaji kualitas air yang selanjutnya memberikan strategi pengendalian pencemaran air dalam rangka menjaga dan memulihkan kondisi air sungai agar sungai dapat bermanfaat sesuai fungsinya
  • Melakukan pengamanan terhadap sumber air baku yang dikelola dari segala bentuk pencemaran sesuai denga peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Pengetahuan perlu dibangun bersama masyarakat untuk memahami apa saja isu dan gejala keruangan yang sedang berlangsung dan memetakan sumber kerentanan hingga mencari solusi yang sesuai
  • Pemilihan solusi bersama masyarakat merupakan keputusan yang terbaik untuk hal pengelolaannya karena mereka lah yang bersinggungan langsung dengan masalah yang ada. Disamping itu harus adanya laporan pertanggung jawaban secara berkala agar tetap sejalan dengan  yang direncanakan
  • Pembangunan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)baik di wilayah industri maupun skala rumah tangga
  • Pembangunan Pengolahan Air Bersih atau Water Treatment Facility dengan sumber airnya berasal dari sungai sekitar yang diproses hingga didistribusikan untuk kebutuhan rumah tangga. Sebaiknya di bangun di sekitar daerah aliran sungai di setiap rukun warga/ kelurahan setempat
  • Pemerintah harus segera memulai pembangunan waduk di berbagai daerah dan sumur resapan. Untuk pembangunannya, pemerintah bisa bekerja sama dengan perusahaan dan institusi
  • Dari segi pengelolaan air, BPPT dan Puslitbang Kemenpupera memiliki sistem pengolahan air sehingga layak dikonsumsi untuk air minum dan untuk daur ulang. Ada sistem penjernih air yang bisa digunakan di tingkat rumah tangga. Bekerja sama dengan BPPT dan institusi pemerintahan dan nantinya dapat dijadikan contoh kota untuk lainnya.
  • BPPT juga telah mengembangkan teknologi desalinasi air laut dengan sistem reverse osmosis sehingga air laut tersebut berubah menjadi air tawar layak minum.  Teknologi serupa tanpa menggunakan bahan bakar fosil pernah diuji cobakan oleh Technical University of Delft, Belanda dan ITB di Bali. Hasilnya, mereka berhasil mengubah air laut menjadi air tawar dengan memanfaatkan energi terbarukan.
  • Dengan kerja sama dengan BPPT dan Kementerian PU-Pera untuk inovasi  mengelola air dan meningkatkan sanitasi sehingga dapat dikenal dan terjangkau oleh masyarakat.Dan pastinya dapat menambah lapangan pekerjaan serta meningkatnya kepedulian masyarakat akan lingkungan sekitar
  • Warga Semarang juga bisa memanfaatkan tandon air untuk menampung air hujan. Air hujan nantinya dimanfaatkan untuk konsumsi rumah tangga. 
  • Lebih disarankan penggunaan paving di halaman dan troktoar dibandingkan beton juga lebih membantu dalam hal penyerapan air.
  • Penghijauan dan Penanaman pohon
  • Melaksanakan kerjasama dan kemitraan dengan kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati dan kualitas sumber – sumber mata air. Kegiatan rutin minimal sebulan sekali dan hasil pemantauan akan dikaji untuk menentukan kualitas air dan rencana pengelolaan sungai untuk selanjutnya
  • Menetralisasi pencemaran air tanah, yakni dengan membuat sumur injeksi di lokasi yang air tanahnya tercemar.
  • Membuat hutan bambu bermanfaat untuk mengendalikan polusi dan mengatur tata air di hutan. Bambu menurut penelitian menghasilkan oksigen 30% lebih banyak dibanding pohon berdaun lebar, perakaran Bambu juga sangat solid menahan tanah agar tidak longsor atau digerus erosi. Rumpun bambu ternyata telah membantu menjaga dan memulihkan aliran air bawah tanah dan mata air panas. 
  • Efisiensi penggunaan sumber daya air melalui program hemat air 
  • Cara sederhana dalam menghemat air adalah menutup kran saat tidak digunakan, membetulkan pipa, selang, atau kran yang bocor, serta menggunakan air secukupnya, seperti menggunakan produk dan peralatan yang hemat air ketika mencuci pakaian. Air bekas mencuci beras dan merebus sayuran juga sebaiknya tidak dibuang dan digunakan untuk menyiram tanaman. kesadaran menanam pohon dan membuat biopori di halaman rumah.
Untuk penelitian lebih dalam, pemerintah bisa melakukan studi banding ke berbagai negara maju (seperti Belanda) dan kemudian mengembangkannya bekerja sama dengan BPPT, Puslitbang Kemenpupera, universitas, dan perusahaan/institusi pengelola air seperti PDAM dan produsen air minum. Apabila pemerintah dan seluruh komponennya berkomitmen dalam meningkatkan kualitas pengelolaan air, maka krisis air bisa diantisipasi dan target untuk menjadikan Kota Semarang Tangguh dengan peningkatan infrastruktur yang ada dan memiliki akses terhadap air minum dan sanitasi dasar bisa tercapai dan lancar


Dengan menjadi bagian dari 100 Resilient City, sebuah program dan jaringan 100 kota di dunia dalam meningkatkan ketahanan Kota. Membuka peluang bagi Kota Semarang untuk dapat membangun jaringan, berbagi informasi, kolaborasi serta mempraktikkan berbagai inovasi dalam penanganan persoalan yang diakibatkan perkembangan kota. Dan dapat menjadi panutan bagi kota lainnya di Indonesia.

1 komentar:

Posting Komentar